Hadirku untuk dirinya
Posted by justesty on February 23, 2010
Enggan rumput untuk berkata kata
Ketika hujan tak lagi menyentuhnya
Enggan ia untuk meberikan tangis
Pada bumu yang telah menghidupinya
Betapa ia mendambakan embun
Ketika pagi datang menggantikan malam
Betapa ia rindu belaian angin
Ketika panas siang menyelimuti raganya
Aku tak mengerti
Kenapa rumput masih berdiri
Bertahan pada tengah liar terkepung mawar
Mempertahankan hijau warna mimpinya
Melindungi bumi dari rapuhnya
Menjaga angin pada polosnya
Dan rumput…
Masih tersenyum pada tali pengharapan
Menunggu air.. membasahi jiwanya yang kian terberai
Menyatukan hati tak berujung disetiap letih jemarinya
Like this:
This entry was posted on February 23, 2010 at 9:42 am and is filed under cinta dan cinta, GREAT STORIES. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
