Guratan Wajah
Posted by justesty on July 1, 2009
“Guratan wajah dan air muka orang-orang dekat kita, merupakan ekspresi
paling jujur yang bisa kita tangkap.” Pernahkah kamu menatap orang-orang terdekat kamu saat ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu
yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.
Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa
jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling
kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah kamu saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan
ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut
merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras
untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah rela melakukan apa
saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.
Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu kamu. Hmm…kulitnya mulai keriput dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh
bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang
tiap hari mengurus kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin
mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang,
dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.
Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah, Ibu, ,
Kakak, Adik, Sahabat, Semuanya. Rasakanlah sensasi yang timbul
sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu
yang terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa
banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk
kebahagiaan kamu. Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman
kecil yang entah kenapa selalu saja nampak besar.
Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui
wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur.
Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa
suara dia berkata: “Betapa lelahnya aku hari ini”.
Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah
kita. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka
bersama kita
Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan
menatap wajah-wajah mereka.
Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat
itu semua. Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka
“orang-orang terkasih itu” tak lagi membuka matanya, selamanya.
Like this:
This entry was posted on July 1, 2009 at 1:20 pm and is filed under GREAT STORIES. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
