Rasa ini datang lagi, rasa sedih itu hari itu 16 September 2006, adalah titik tolak hidupku.. Pada hari itu aku kehilangan orang yang aku cintai dan kukagumi di dunia ini. Dia meninggalkan aku. Bagiku kematian adalah satu hal yang pasti akan datang pada kita, entah pada diri kita sendiri atau pada orang-orang terdekat kita, dan itu adalah sesuatu yang harus kita persiapkan kapan saja harus dihadapi. Tapi aku juga tidak munafik bahwa kehilangan itu sangat menampar kehidupanku. Yang jadi masalah utama adalah waktu kehilangan itu. Aku kehilangan dia justru saat aku sangat membutuhkan kehadirannya. Aku sempat ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Terus terang aku sempat putus asa dan berpikir tidak ada gunanya aku terus disini, toh dia tidak akan bisa melihat. Tapi syukur aku langsung sadar bahwa aku masih punya Ibu, teman yang tidak kalah berharganya dalam hidupku, bahkan sangat-sangat berharga. Aku jadi sadar, bahwa sekaranglah saatnya aku membahagiakan Ibu. Karenanya, dengan keringat dan air mata, aku mencoba bangkit dari rasa kehilangan itu, dan mencoba mengejar masa depanku dari puing-puing kesedihan dan kehilangan itu.
Kehilangan orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat tidak kita inginkan dalam hidup ini tapi justru adalah sesuatu yang pasti kita alami. Kehilangan itu bisa saja hanya sebatas jarak dan waktu, tapi bisa juga kehilangan yang tidak akan pernah bertemu lagi atau kematian. Jika rasa kehilangan itu hanya sebatas jarak dan waktu, mungkin kita masih bisa mengatasinya dengan memanfaatkan teknologi untuk tetap berhubungan dengan orang yang kita cintai itu. Tapi bagaimana jika kehilangan itu akibat kematian, dimana kita sama sekali tidak mempunyai kemungkinan untuk bertemu lagi dengan orang itu? Bagaimana jika ironisnya rasa kehilangan itu kita alami justru disaat kita sedang sangat membutuhkan kehadiran orang itu?
Tak pernah ada satu orang pun yang menginginkan hal ini terjadi pada dirinya. Namun juga kita tidak punya kuasa untuk mencegah hal tersebut jika terlanjur terjadi pada kita. Akankah kita selamanya tenggelam dalam kesedihan mendalam? Apakah kesedihan itu dapat mengembalikan orang itu ke hadapan kita lagi? Jawabannya tentu saja tidak walaupun kadang tak meutup kemungkinan rasa sedih itu akan kadang akan kembali hadir. Lalu bagaimana kita menata diri kita untuk dapat bangkit lagi, melanjutkan hidup yang mungkin kita anggap sudah tidak ada gunanya lagi tanpa kehadiran orang yang kita cintai itu? Berikut beberapa tips yang dapat anda jalankan:
1. Motivasi diri sendiri
Katakan pada diri anda bahwa “life goes on” dan anda harus menjelang masa depan yang lebih baik, dengan atau tanpa dirinya. Dan diri anda sendiri untuk dapat mewujudkan semua impian itu sebagai tanda cinta anda padanya, meskipun dia tidak lagi bisa melihat keberhasilan anda. Dan ingatlah bahwa masih ada orang lain yang mencintai anda di sekeliling anda yang pasti akan bangga melihat keberhasilan anda itu.
2. Kembali fokus pada tujuan hidup dan impian
Mungkin dulu, sewaktu orang yang anda cintai itu masih ada di sisi anda, anda mempunyai impian dan rencana yang ingin anda wujudkan bersama. Sekarang, ketika dia tidak ada lagi di sisi anda, tetaplah fokus untuk dapat mewujudkan impian itu, dan jadikan itu wujud dari cara anda membalas kesalahan yang mungkin pernah anda lakukan padanya ketika dia masih hidup. Raihlah impian itu dan katakan pada diri anda, “I’ll do this for you..”
3. Melihat ‘ke bawah’
Lihatlah kehidupan orang-orang yang lebih susah daripada kita. Resapi bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan keadaan yang jauh lebih menyedihkan daripada kita. Ingatlah bahwa kita bukan satu-satunya orang yang merasakan kesedihan, dan jangan pernah berpikir bahwa kita adalah orang yang paling malang di dunia karena perasaan seperti itu justru akan menjadikan kita orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang masih diberikanNya.
4. Dekatkan diri pada Sang Pencipta
Sebagai manusia biasa kita tidak akan pernah lepas seutuhnya dari rasa sedih akan kehilangan itu. Ketika rasa sedih itu kembali menghimpit dan tidak ada hal lain yang dapat mengusirnya, maka dekatkanlah diri pada Sang Pencipta. Beribadahlah, menangislah padaNya, sesali dosa-dosa anda, minta diberi kekuatan dalam menghadapi kerasnya hidup, mintalah agar anda dapat meraih keberhasilan yang dapat anda persembahkan pada orang yang anda cintai namun telah pergi itu, dan mintalah agar Dia mengampuni semua dosa yang telah diperbuat oleh orang yang anda kasihi itu.
Ingatlah bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini sudah ada yang mengaturnya, tinggal bagaimana kita mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang kita alami. Karena di balik keburukan pasti ada kebaikan, sebaliknya di balik kebaikan juga ada keburukan. Satu hal lagi, jangan pernah berburuk sangka pada Tuhan dengan mengatakan bahwa semua ini terjadi karena Tuhan tidak menyayangi kita. Tapi yakinlah bahwa justru Tuhan memberi ujian dan cobaan yang berat pada umat yang dicintai-Nya agar dapat mengambil hikmah dan menjadi insan yang lebih baik. KARENA WAKTU MEMPUNYAI KEBAIKAN YANG MISTERIUS, DIA BISA MENGEMBALIKAN APA YANG HILANG DARI KITA DALAM BENTUK KENANGAN.
Dan untuk dia, walaupun kamu nggak ada disini lagi, walaupun aku nggak bisa melihat kamu lagi tapi kamu masih sama, sama seperti dulu saat kamu masih ada nggak ada yang berubah dan nggak ada yang bisa seperti kamu. Everithing I do, i’ll do it for you. Miss you..
